Tak akan terganti
Namanya Lili burung cantik berasal dari hutan tropis Asia. Ia merupakan
seekor burung paling cantik di Hutan. Tak jarang burung jantan
merebutkannya. Ia juga memiliki sahabat
bernama Anggun. Angggun juga merupakan burung yang indah namun, keindahnnya
masih terkalahkan oleh sahabatnya. Meskipun ia kalah cantik dari sahabatnya ia
sama sekali tak punya rasa iri hati pada Lili.
Lili sering berpergian ke pohon satu dengan yang lain. Sering pula Lili
berpergian tanpa sahabatnya, Karena ia tak membutuhkan temannya untuk
membantunya. Begitulah sifat Lili tak mau terkalahkan, egois dan sombong.
Banyak orang memuji Lili karena kecerdikannya membuat sarang. Sarangnya
terlihat indah Karena tak sembarang rumput ia jadikan sarang. Ia sering menambah
aksesoris sarangnya dengan bulu bulu burung lain yang rontok atau jatuh. Lili
sangat kreatif dan cerdik tak salah bila orang sering memujinya.
Anggun sahabatnya mempir ke sarang Lili yang baru sambil melihat lihat,
ia juga sering mengkritik.
“sarangmu sebaiknya di ranting yang sebelah sana Li!” kritik Anggun
“disini aku juga sudah aman”
“disini terlalu tinggi, predator bisa saja menengok mu dan menerkamu
atau bisa saja angin dapat menerbangkan sarangmu!” peringat Anggun
“sudahlah Nggun, kalau kamu disini hanya untuk mengkritik aku, sebaiknya
kamu pergi!”
“maaf Li, aku hanya memberi saran!”
“sudah lah! aku tidak mau hasil karyaku di celoteh orang” gertak Lili
Lalu, Anggun pergi dengan menyesal. Dalam perjalanannya, ia tidak fokus
dengan apa yang ia pandangi. Rasa bersalahnya masih lekat. Kata kata dari Lili
masih terngiang di fikirannya.
“Maaf li, aku tak bermaksud membuatmu kesal” kata Anggun dalam hati
Sejak saat itu persahabatan mereka bagai di tepi jurang. Entah akan
bertahan atau tidak. Sejak kejadian itu pula Lili jarang pergi ke sarang
Anggun. Anggun hanya dapat menantinya. Anggun pernah sesekali berfikir untuk
pergi ke sarang Lili. Namun, ia masih takut kalau Lili marah dan malah pergi
dari wilayah ini.
“kok masih di sarang Nggun?” Tanya Mimi teman Anggun
“lagi malas Mi” alasan Anggun
“gak cari persediaan makanan?”
“memang ada apa?”Tanya Anggun sedikit kaget
“kamu lupa, sebentar lagi musim hujan dan beberapa hari kedepan angin
akan sangat kencang”
“oh, iya aku baru ingat. Terimakasih sudah mengingatkan” kata Anggun
“sama sama Nggun”
“biasanya aku dan Lili pergi bersama mencari persediaan makanan” gumam
Anggun
Sampai saat ini Anggun masih belum bertemu dengan Lili sahabatnya itu.
Siang hari setelah ia mendapat kabar dari Mimi ia langsung terbang menuju
sarang Lili.
“aku harus minta maaf sama Lili. Sehingga persahabatanku tak hancur”
Namun, apalah yang terjadi. Saat ia beranjak terbang, angin tiba tiba
berhembus sangat kencang. Ia terbang ke atas tanpa melihat sarangnya. Setelah
angin itu hilang. Sarangnya hancur, terbang dan bercecer di mana mana. Besok
musim hujan sudah dimulai. Dan kali ini ia tanpa sahabat dan tanpa sarang.
Teman teman Anggun sangat iba. Dan satu persatu dari teman Anggun membantunya
untuk mengumpulkan sarangnya. Dilihatnya Lili datang menghampiri Anggun.
“akhirnya kamu datang Li” kata Anggun sambil menyapa Lili
“aku hanya ingin melihat apa yang terjadi” kata Lili
“sarang ku tersapu oleh Angin kencang” tegas Anggun
“lalu, apa masalahnya untukku? Makanya kalau membuat sarang carilah tempat
yang kuat!” gertak Lili pada Anggun
“aku kira kamu juga simpati terhadapku” kata Anggun
“oh, jangan terlalu senang juga kamu. Aku hanya ingin melihatnya, bukan
untuk menolong juga” sambil tersenyum mengejek dan pergi menjauh dari tempat
tinggal Anggun
Anggun melihat Lili pergi begitu saja. Saat itu pula Mimi memeluk Anggun
dan merasa sangat iba kepada Anggun. Setelah sarangnya selesai dibuat oleh
teman-temannya ia langsung mencari kebutuhan untuk besok.
“aku harap kita tidak bermusuhan lagi Li” harap Anggun sambil mencari
makanan
Musim penghujan itupun sudah datang. Saat pagi hari tiba, ternyata air
hujan turun. Namun, untunglah hanya gerimis. Tiba tiba angin berhembus dari
barat dengan sangat cepat. Saat Lili tertidur ia terbangun mendengar suara angin
itu. Terdengar bunyi dari sebelah kanannya
“Krek krek”
Ia sangat berjaga dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Suara itu
terdengar kembali “kretek krek” dia sangat cemas dan takut. Saat ia hendak
melihat lihat tanpa berjaga tiba tiba ranting yang menjadi sandaran serangnya
patah.
“krek krek kretek.. brokk!!”
Spontan ia berteriak dan terjatuh karena keadaan dirinya yang tidak
berjaga dan terlena begitu saja diterpa angin. Akhirnya ia jatuh dan tertimpa
ranting. Sayap kanannya tertimpa ranting tersebut. Saat Anggun yang
berterbangan di awan melihat dan mendengar teriakan Lili ia langsung terbang ke
bawah dan menelong Lili yang terjatuh di tanah. Elang yang melihat Lili sudah
berjaga akan menerkamnya. Anggun langsung menopang tubuh Lili dan membawanya ke
sarang burung lain. Sehingga Elang tak jadi menerkam Lili.
“kau tak apa Li?” Tanya Anggun
“sayapku, sayapku patah dan sarangku jatuh” kata Lili
“tak apa nanti akan ku bantu membuat sarang yang baru” tegas Anggun
“terimakasih Nggun kau telah menolongku saat aku membencimu”
“aku adalah sahabatmu Li, meskipun kau membenciku aku akan tetap
menyayangimu. Kamu adalah sahabatku” tegas Anggun
“kamu memang sahabatku yang paling baik Nggun, mampu menerima aku dengan
apa adanya. Maaf atas kesalahanku yang kemarin”
“sebelum kau mengatakannya aku sudah memafkanmu” kata Anggun
“kamu memang sahabatku. Kamu gak akan pernah bisa tergantikan” jelas
Lili dengan bangga
Tak terasa air mata bergelinang dari mata mereka.dan akhirnya mereka
menjadi sahabat lagi. Lili mulai mengerti bagaimana menghargai saran orang lain
dan dia sudah belajar menjadi burung betina yang sederhana. Menurut mereka
sahabat merupakan anugrah terindah dari Tuhan dan tidak akan pernah terganti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar