Kamis, 06 November 2014

Cerpen Fabel

Tak akan terganti
Namanya Lili burung cantik berasal dari hutan tropis Asia. Ia merupakan seekor burung paling cantik di Hutan. Tak jarang burung jantan merebutkannya.  Ia juga memiliki sahabat bernama Anggun. Angggun juga merupakan burung yang indah namun, keindahnnya masih terkalahkan oleh sahabatnya. Meskipun ia kalah cantik dari sahabatnya ia sama sekali tak punya rasa iri hati pada Lili.

Lili sering berpergian ke pohon satu dengan yang lain. Sering pula Lili berpergian tanpa sahabatnya, Karena ia tak membutuhkan temannya untuk membantunya. Begitulah sifat Lili tak mau terkalahkan, egois dan sombong.
Banyak orang memuji Lili karena kecerdikannya membuat sarang. Sarangnya terlihat indah Karena tak sembarang rumput ia jadikan sarang. Ia sering menambah aksesoris sarangnya dengan bulu bulu burung lain yang rontok atau jatuh. Lili sangat kreatif dan cerdik tak salah bila orang sering memujinya.
Anggun sahabatnya mempir ke sarang Lili yang baru sambil melihat lihat, ia juga sering mengkritik.
“sarangmu sebaiknya di ranting yang sebelah sana Li!” kritik Anggun
“disini aku juga sudah aman”
“disini terlalu tinggi, predator bisa saja menengok mu dan menerkamu atau bisa saja angin dapat menerbangkan sarangmu!” peringat Anggun
“sudahlah Nggun, kalau kamu disini hanya untuk mengkritik aku, sebaiknya kamu pergi!”
“maaf Li, aku hanya memberi saran!”
“sudah lah! aku tidak mau hasil karyaku di celoteh orang” gertak Lili
Lalu, Anggun pergi dengan menyesal. Dalam perjalanannya, ia tidak fokus dengan apa yang ia pandangi. Rasa bersalahnya masih lekat. Kata kata dari Lili masih terngiang di fikirannya.
“Maaf li, aku tak bermaksud membuatmu kesal” kata Anggun dalam hati
Sejak saat itu persahabatan mereka bagai di tepi jurang. Entah akan bertahan atau tidak. Sejak kejadian itu pula Lili jarang pergi ke sarang Anggun. Anggun hanya dapat menantinya. Anggun pernah sesekali berfikir untuk pergi ke sarang Lili. Namun, ia masih takut kalau Lili marah dan malah pergi dari wilayah ini.
“kok masih di sarang Nggun?” Tanya Mimi teman Anggun
“lagi malas Mi” alasan Anggun
“gak cari persediaan makanan?”
“memang ada apa?”Tanya Anggun sedikit kaget
“kamu lupa, sebentar lagi musim hujan dan beberapa hari kedepan angin akan sangat kencang”
“oh, iya aku baru ingat. Terimakasih sudah mengingatkan” kata Anggun
“sama sama Nggun”
“biasanya aku dan Lili pergi bersama mencari persediaan makanan” gumam Anggun
Sampai saat ini Anggun masih belum bertemu dengan Lili sahabatnya itu. Siang hari setelah ia mendapat kabar dari Mimi ia langsung terbang menuju sarang Lili.
“aku harus minta maaf sama Lili. Sehingga persahabatanku tak hancur”
Namun, apalah yang terjadi. Saat ia beranjak terbang, angin tiba tiba berhembus sangat kencang. Ia terbang ke atas tanpa melihat sarangnya. Setelah angin itu hilang. Sarangnya hancur, terbang dan bercecer di mana mana. Besok musim hujan sudah dimulai. Dan kali ini ia tanpa sahabat dan tanpa sarang. Teman teman Anggun sangat iba. Dan satu persatu dari teman Anggun membantunya untuk mengumpulkan sarangnya. Dilihatnya Lili datang menghampiri Anggun.
“akhirnya kamu datang Li” kata Anggun sambil menyapa Lili
“aku hanya ingin melihat apa yang terjadi” kata Lili
“sarang ku tersapu oleh Angin kencang” tegas Anggun
“lalu, apa masalahnya untukku? Makanya kalau membuat sarang carilah tempat yang kuat!” gertak Lili pada Anggun
“aku kira kamu juga simpati terhadapku” kata Anggun
“oh, jangan terlalu senang juga kamu. Aku hanya ingin melihatnya, bukan untuk menolong juga” sambil tersenyum mengejek dan pergi menjauh dari tempat tinggal Anggun
Anggun melihat Lili pergi begitu saja. Saat itu pula Mimi memeluk Anggun dan merasa sangat iba kepada Anggun. Setelah sarangnya selesai dibuat oleh teman-temannya ia langsung mencari kebutuhan untuk besok.
“aku harap kita tidak bermusuhan lagi Li” harap Anggun sambil mencari makanan
Musim penghujan itupun sudah datang. Saat pagi hari tiba, ternyata air hujan turun. Namun, untunglah hanya gerimis. Tiba tiba angin berhembus dari barat dengan sangat cepat. Saat Lili tertidur ia terbangun mendengar suara angin itu. Terdengar bunyi dari sebelah kanannya
“Krek krek”
Ia sangat berjaga dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Suara itu terdengar kembali “kretek krek” dia sangat cemas dan takut. Saat ia hendak melihat lihat tanpa berjaga tiba tiba ranting yang menjadi sandaran serangnya patah.
“krek krek kretek.. brokk!!”
Spontan ia berteriak dan terjatuh karena keadaan dirinya yang tidak berjaga dan terlena begitu saja diterpa angin. Akhirnya ia jatuh dan tertimpa ranting. Sayap kanannya tertimpa ranting tersebut. Saat Anggun yang berterbangan di awan melihat dan mendengar teriakan Lili ia langsung terbang ke bawah dan menelong Lili yang terjatuh di tanah. Elang yang melihat Lili sudah berjaga akan menerkamnya. Anggun langsung menopang tubuh Lili dan membawanya ke sarang burung lain. Sehingga Elang tak jadi menerkam Lili.
“kau tak apa Li?” Tanya Anggun
“sayapku, sayapku patah dan sarangku jatuh” kata Lili
“tak apa nanti akan ku bantu membuat sarang yang baru” tegas Anggun
“terimakasih Nggun kau telah menolongku saat aku membencimu”
“aku adalah sahabatmu Li, meskipun kau membenciku aku akan tetap menyayangimu. Kamu adalah sahabatku” tegas Anggun
“kamu memang sahabatku yang paling baik Nggun, mampu menerima aku dengan apa adanya. Maaf atas kesalahanku yang kemarin”
“sebelum kau mengatakannya aku sudah memafkanmu” kata Anggun
“kamu memang sahabatku. Kamu gak akan pernah bisa tergantikan” jelas Lili dengan bangga
Tak terasa air mata bergelinang dari mata mereka.dan akhirnya mereka menjadi sahabat lagi. Lili mulai mengerti bagaimana menghargai saran orang lain dan dia sudah belajar menjadi burung betina yang sederhana. Menurut mereka sahabat merupakan anugrah terindah dari Tuhan dan tidak akan pernah terganti.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar