Kamis, 06 November 2014

Cerpen bertema persahabatan

Salah Sasaran

Pagi hari ini merupakan suatu hari yang paling menengangkan untukku dan dihidupku, hari ini terasa ada dalam tengah tengah dua alam yaitu jurang dan langit. Aku dan beserta keluargaku berada di ruang keluarga berkumpul dan berbincang bincang. Hari ini pula bertepatan dengan reuni keluargaku, satu sisi aku takut dan satu sisi senang. Setelah kami berbincang bincang yang ternyata menyita waktu yang lama, apa yang aku tunggu pun sudah datang.
Terlihat laki laki berpakaian dinas berjaket orange berhenti tepat didepan rumahku. Spontan aku langsung datang padanya dan mempersilahkannya masuk kerumah, walau ada reuni keluarga.
   “silahkan masuk dulu pak” suruhku pada Pak Pos.  
   “oh, terimkasih nak” jawab Pak Pos

Setelah ku terima amplop dari Pak Pos tersebut aku langsung membukanya. Jantungku sangat berdebar dan tanganku bergetar. Dan ternyata isi dari surat tersebut ialah “SELAMAT ANDA LULUS TES” setelah aku membacanya, spontan aku lompat dan berkata “yeeeee, akhirnya” Ayah dan Ibuku langsung spontan terkaget kaget melihat tingkah polahku yang tak biasanya. Mereka hanya tersenyum dan melihatku begitu bangga. Meskipun mereka hanya membalas dengan senyuman hatiku sangat bahagia dapat membuat orang tuaku bangga. Terdengar ucapan selamat dari para keluargaku. Dari keponakanku, tante dan om ku.
            Ya, aku baru saja lulus dari SMA dan sekarang mencari Perguruan Tinggi. Dan Universitas Medita lah yang aku pilih. Dan ternyata aku lulus tes untuk masuk di Universitas tersebut. Cita citaku adalah menjadi pengusaha yang sukses. Dan disinilah aku akan menempuhnya. Ya, di Fakultas Ilmu Administrasi.
            Setelah 4 bulan berlalu, saat ini aku menjalani ospek. Dulu sih, kalau aku masih SMA namanya MOS. Ospek kali ini berjalan selama satu minggu.  Dalam hatiku hanya berbunyi “semoga aku bisa melakukannya”
            Hari kedua Ospek aku sudah mempunyai teman namanya Fanya. Dia anaknya baik, ramah, putih, rambutnya pendek, dia asik banget orangnya. Saat itu ada kakak kelasku yang mencoba deketin Fanya. Tapi Fanya itu cuek banget sama laki-laki. Ya, jadi kakak kelasku itu dicuekin aja. Gak kebayangkan, gimana misteriusnya Fanya.
   “Mikha ayok ke perpustakan, lagi pengen baca baca nih, mumpung masih istirahat” ajak Fanya
   “ayok, aku ikut kamu aja” sautku
   “nanti pulang dari kampus ke kantin yuk, pasti laper, dikosan sepi nih” ajak Fanya lagi
   “iya, dikosan nanti pasti sepi. Aku juga mau ke kantin” jawabku
            Kami memang kebetulan satu kosan, dekat dengan kampus tentunya. Kosan yang aku diami pemiliknya itu masih saudaraku jauh. Tapi ayah masih kenal dekat dengan ibu kos. Namanya Bu Nani, aku sih belum terlalu tau silsilah keluargaku sampai kenal Bu Nani. Pokoknya kata Ayah sih masih jadi saudara. Jadi disini aku sedikit sungkan sama Bu Nani.
            Setelah satu minggu berlalu, akhirnya ospek sudah selesai. Lega banget rasanya. 7 hari aku dan Fanya bangun jam 4 pagi dan pulang jam setengah 4 sore. Dan itu belum kalau kena hukuman. Ya udahlah ya, akhirnya selesai juga. Pagi itu merupakan pagi yang cerah yang mengawali hari pertamaku masuk kampus tanpa ospek. Fanya yang ternyata sudah dikampus duluan menungguku. Saat aku dan Fanya masuk kelas, banyak surat surat yang berhamburan di kotak isi. Saat ospek memang ada tantangan ngasih surat cinta ke seseorang. Nah, tempat strategisnya sih ada di depan kelasku jadi banyak banget surat surat yang belum dibagikan. Dan yang seperti aku duga. Fanya lah yang dapat banyak surat cinta. Secara dia cantik fisik, cantik hati pula.
   “enggak kamu buka tuh surat Fa ?” tanyaku pada Fanya
   “males banget, ngapain dibuka kalau isinya gombal aja? Aku sih gak butuh surat Mik, yang aku butuhin hanya kenyataan” jawab Fanya
   “wah, bener juga kamu, lagian kalau emang dapet surat belum tentu yang ngasih surat itu sungguh sungguh sama kita” ujarku
   “kalau saat saat ini sih aku masih belum nyarik pacar dulu, masih fokus sama kampus” kata Fanya
            Aku kagum dengan Fanya, dibalik kecantikan, keramahannya padaku. Dimata lelaki dia sangat misterius yang membuat para lelaki mengingininya.
            Setelah satu semester berlalu, salah satu dosenku datang padaku dan marah marah kepadaku dan Fanya. Kami tidak tau alasannya apa.
   “kalian itu ya, masih satu smester disini saja sudah bikin ulah! Mau bikin keonaran disini?”
            Aku dan Fanya terbelalak dan kaget mendengar teguran dari bu Rini. Aku dan Fanya seperti orang gila, gak bisa ngomong apa-apa lagi
   “maaf, bu. Bukannya kami tidak mau mengakui kesalahan kami, kami masih tidak tahu apa yang ibu bicarakan terhadap kami” Bela Fanya
   “memang selalu tidak ada yang mengaku saat saya tegur” bentak bu Rini
   “kami memang tidak tahu bu, apa yang kami lakukan sebelumnya. Kami baru saja masuk di Kampus ini masak kami mau bikin onar?” belaku
    “kemarin kalian mengobrak abrik kantin kampus kan? Kalian juga mencuri snack di Market belakang kampus?”
            Aku dan Fanya bengong dan mataku terbuka begitu lebar. Kami sangat kaget dapat tuduhan seperti itu. Kami tidak mengira bahwa akan terjebak dalam situasi ini.
   “tidak bu. Kemarin kami libur, kami kemarin hanya berada dalam kos dan berjalan jalan di Alun-alun kota saja. Saya belum ke kantin kampus kemarin” sahutku
   “tapi, kantin sekolah berkata bahwa Mikha dan Anya yang melakukannya!”
   “kata Mikha benar bu, kami tidak melakuakn kegiatan apa-apa di Kampus kemarin” sahut Fanya membelaku
            Tiba tiba datang Pak Jono yang juga dosenku.
   “Bu Rini, yang dmaksud pegawai kantin bukan Mikha dan Fanya bu. Tapi, Kaka dan Anya anak Fakultas Pertanian. Semester 4. Jadi, maaf ya Mikha, Fanya. Kami salah menagkap kalian”
    “tidak papa pak. Kami dapat ambil hikmah kok pak” kata Fanya menenangkan situasi saat ini.
            Dan hari ini merupakan hari gereget selama aku berada dalam kampus ini. Untungnya aku dan Fanya tidak terbawa emosi.
            Keesokannya aku tidak tahu kenapa, banyak sekali bunga-bunga dalam kelas. Aku dan Fanya kaget dan kagum. Ternyata ada teman sekelasku yang berulangtahun. Hari ini aku juga masuk kelas sore sekitar jam 3. Ternyata kelas yang sebelumnya merayakan ulangtahun temanku. Sayang sekali aku melewatkannya.
   “sayang ya, kita melewatkan ulang tahunnya” ujarku
   “iya, pasti tadi seru banget. Eh Mik, lihat diloker dong. Ada undangan” kata Fanya
   Sambil aku buka loker “mana sih, aku gak dapet undangan” kataku
   “aku kok dapat? Kok kamu enggak?”
   “cek coba dari siapa!” suruhku kepada Fanya
   “dari Army. Kenal Army gak?” Tanya Fanya
   “enggak deh, bukannya anak Teknik ya itu” Jawabku
   “bentar deh, ini bukan buat aku. Ini untuk Fanya Gita, namaku kan Fanya Yunita” kata Fanya sambil lemes
   “kenak salah sasaran aja hari hari ini” kataku sambil menahan tawa
            Memang, hari hari ini selalu aku dan Fanya kena musibah salah sasaran. Mulai dianggep onar sampai dapat undangan nyasar. Aku harap besok gak dapat salah sasar lagi.
            Saat aku dan Fanya tiba di kos. Kami ingat bahwa besok hari Sabtu. Aku sudah janji sama Ayah dan Ibu kalau minggu ini aku akan pulang. Begitu juga Fanya. Kami pergi ke Stasiun untuk membeli tiket pulang. Sesampainya di Rumah. Kata bu Nani tadi ada laki-laki nyari aku. Aku sama Fanya dibuat terkejut lagi. Masalahnya, akhir semester ini aku dan Fanya lagi gak deket sama siapa siapa.
   “laki-laki tadi nitip nomor telefonnya ke ibuk, ini nomernya” kata Bu Nani
   “makasih bu” jawabku
   “kira-kira siapa itu Mik?” Tanya Fanya
   “gak tau juga, sekarang kan aku lagi gak deket sama siapa-siapa” jawabku
            Saat itupun aku langsung menghubunginya. Namanya Yohan anak MIPA. Katanya dia kenal aku lewat Ospek. Tapi dia sekarang itu udah semester  6. Bingung kan. Aku sekarang masih semester 2.
   “kamu Mikha anaknya Pak Burhankan?” Tanya Yohan
   “bukan, aku masih semester 2 kali” langsung aku jawab seperti itu
   “aku kira kamu Mikha Anastasya” ujarnya
   “bukan, namaku Mikha Talita” jawabku
   “oh, maaf” katanya
   “tidak apa-apa. Maaf kalau aku mengganggu. Selamat Sore” kataku
   “oh, iya. Harusnya aku yang minta maaf” katanya
            Dan langsung kututup percakapanku. Aku memang tidak suka dengan pembicaraan yang salah sambung. Dan tanpa alas an apapun, langsung kuhapus nomernya. Lalu, aku cerita hal ini pada Fanya. Di tertawa terbahak-bahak. Da akupun ikut terawa bersamanya.
            Hari ini memang hari yang meneyebalkan bagiku karna kali ini, aku yang dapat kesalah sambungan orang. Minggu ini memang minggu yang penuh misteri dan menyebalkan. Aku dan Fanya sering terkena salah sasaran. Tapi, melalui peritiwa ini aku dan Fanya semakin  dekat dan persahabatan kami semakin erat. Aku senang dapat berkenalan dengan Fanya dan sebaliknya. Memang sahabat itu selalu ada saat sahabat membutuhkan.

   




























Tidak ada komentar:

Posting Komentar