Salah Sasaran
Pagi hari ini merupakan suatu hari yang paling
menengangkan untukku dan dihidupku, hari ini terasa ada dalam tengah tengah dua
alam yaitu jurang dan langit. Aku dan beserta keluargaku berada di ruang
keluarga berkumpul dan berbincang bincang. Hari ini pula bertepatan dengan
reuni keluargaku, satu sisi aku takut dan satu sisi senang. Setelah kami
berbincang bincang yang ternyata menyita waktu yang lama, apa yang aku tunggu
pun sudah datang.
Terlihat laki laki berpakaian dinas berjaket orange
berhenti tepat didepan rumahku. Spontan aku langsung datang padanya dan
mempersilahkannya masuk kerumah, walau ada reuni keluarga.
“silahkan
masuk dulu pak” suruhku pada Pak Pos.
“oh,
terimkasih nak” jawab Pak Pos
Setelah ku terima amplop dari Pak Pos tersebut aku
langsung membukanya. Jantungku sangat berdebar dan tanganku bergetar. Dan
ternyata isi dari surat tersebut ialah “SELAMAT ANDA LULUS TES” setelah aku
membacanya, spontan aku lompat dan berkata “yeeeee, akhirnya” Ayah dan Ibuku
langsung spontan terkaget kaget melihat tingkah polahku yang tak biasanya.
Mereka hanya tersenyum dan melihatku begitu bangga. Meskipun mereka hanya
membalas dengan senyuman hatiku sangat bahagia dapat membuat orang tuaku
bangga. Terdengar ucapan selamat dari para keluargaku. Dari keponakanku, tante
dan om ku.
Ya,
aku baru saja lulus dari SMA dan sekarang mencari Perguruan Tinggi. Dan
Universitas Medita lah yang aku pilih. Dan ternyata aku lulus tes untuk masuk
di Universitas tersebut. Cita citaku adalah menjadi pengusaha yang sukses. Dan
disinilah aku akan menempuhnya. Ya, di Fakultas Ilmu Administrasi.
Setelah
4 bulan berlalu, saat ini aku menjalani ospek. Dulu sih, kalau aku masih SMA
namanya MOS. Ospek kali ini berjalan selama satu minggu. Dalam hatiku hanya berbunyi “semoga aku bisa
melakukannya”
Hari
kedua Ospek aku sudah mempunyai teman namanya Fanya. Dia anaknya baik, ramah,
putih, rambutnya pendek, dia asik banget orangnya. Saat itu ada kakak kelasku
yang mencoba deketin Fanya. Tapi Fanya itu cuek banget sama laki-laki. Ya, jadi
kakak kelasku itu dicuekin aja. Gak kebayangkan, gimana misteriusnya Fanya.
“Mikha ayok
ke perpustakan, lagi pengen baca baca nih, mumpung masih istirahat” ajak Fanya
“ayok, aku
ikut kamu aja” sautku
“nanti pulang
dari kampus ke kantin yuk, pasti laper, dikosan sepi nih” ajak Fanya lagi
“iya, dikosan
nanti pasti sepi. Aku juga mau ke kantin” jawabku
Kami
memang kebetulan satu kosan, dekat dengan kampus tentunya. Kosan yang aku diami
pemiliknya itu masih saudaraku jauh. Tapi ayah masih kenal dekat dengan ibu
kos. Namanya Bu Nani, aku sih belum terlalu tau silsilah keluargaku sampai
kenal Bu Nani. Pokoknya kata Ayah sih masih jadi saudara. Jadi disini aku
sedikit sungkan sama Bu Nani.
Setelah
satu minggu berlalu, akhirnya ospek sudah selesai. Lega banget rasanya. 7 hari
aku dan Fanya bangun jam 4 pagi dan pulang jam setengah 4 sore. Dan itu belum
kalau kena hukuman. Ya udahlah ya, akhirnya selesai juga. Pagi itu merupakan
pagi yang cerah yang mengawali hari pertamaku masuk kampus tanpa ospek. Fanya
yang ternyata sudah dikampus duluan menungguku. Saat aku dan Fanya masuk kelas,
banyak surat surat yang berhamburan di kotak isi. Saat ospek memang ada
tantangan ngasih surat cinta ke seseorang. Nah, tempat strategisnya sih ada di
depan kelasku jadi banyak banget surat surat yang belum dibagikan. Dan yang
seperti aku duga. Fanya lah yang dapat banyak surat cinta. Secara dia cantik
fisik, cantik hati pula.
“enggak kamu
buka tuh surat Fa ?” tanyaku pada Fanya
“males
banget, ngapain dibuka kalau isinya gombal aja? Aku sih gak butuh surat Mik,
yang aku butuhin hanya kenyataan” jawab Fanya
“wah, bener
juga kamu, lagian kalau emang dapet surat belum tentu yang ngasih surat itu
sungguh sungguh sama kita” ujarku
“kalau saat
saat ini sih aku masih belum nyarik pacar dulu, masih fokus sama kampus” kata
Fanya
Aku
kagum dengan Fanya, dibalik kecantikan, keramahannya padaku. Dimata lelaki dia
sangat misterius yang membuat para lelaki mengingininya.
Setelah
satu semester berlalu, salah satu dosenku datang padaku dan marah marah
kepadaku dan Fanya. Kami tidak tau alasannya apa.
“kalian itu
ya, masih satu smester disini saja sudah bikin ulah! Mau bikin keonaran
disini?”
Aku
dan Fanya terbelalak dan kaget mendengar teguran dari bu Rini. Aku dan Fanya
seperti orang gila, gak bisa ngomong apa-apa lagi
“maaf, bu.
Bukannya kami tidak mau mengakui kesalahan kami, kami masih tidak tahu apa yang
ibu bicarakan terhadap kami” Bela Fanya
“memang
selalu tidak ada yang mengaku saat saya tegur” bentak bu Rini
“kami memang
tidak tahu bu, apa yang kami lakukan sebelumnya. Kami baru saja masuk di Kampus
ini masak kami mau bikin onar?” belaku
“kemarin
kalian mengobrak abrik kantin kampus kan? Kalian juga mencuri snack di Market
belakang kampus?”
Aku
dan Fanya bengong dan mataku terbuka begitu lebar. Kami sangat kaget dapat
tuduhan seperti itu. Kami tidak mengira bahwa akan terjebak dalam situasi ini.
“tidak bu.
Kemarin kami libur, kami kemarin hanya berada dalam kos dan berjalan jalan di
Alun-alun kota saja. Saya belum ke kantin kampus kemarin” sahutku
“tapi, kantin
sekolah berkata bahwa Mikha dan Anya yang melakukannya!”
“kata Mikha
benar bu, kami tidak melakuakn kegiatan apa-apa di Kampus kemarin” sahut Fanya
membelaku
Tiba
tiba datang Pak Jono yang juga dosenku.
“Bu Rini,
yang dmaksud pegawai kantin bukan Mikha dan Fanya bu. Tapi, Kaka dan Anya anak
Fakultas Pertanian. Semester 4. Jadi, maaf ya Mikha, Fanya. Kami salah menagkap
kalian”
“tidak papa
pak. Kami dapat ambil hikmah kok pak” kata Fanya menenangkan situasi saat ini.
Dan
hari ini merupakan hari gereget selama aku berada dalam kampus ini. Untungnya
aku dan Fanya tidak terbawa emosi.
Keesokannya
aku tidak tahu kenapa, banyak sekali bunga-bunga dalam kelas. Aku dan Fanya
kaget dan kagum. Ternyata ada teman sekelasku yang berulangtahun. Hari ini aku
juga masuk kelas sore sekitar jam 3. Ternyata kelas yang sebelumnya merayakan
ulangtahun temanku. Sayang sekali aku melewatkannya.
“sayang ya,
kita melewatkan ulang tahunnya” ujarku
“iya, pasti
tadi seru banget. Eh Mik, lihat diloker dong. Ada undangan” kata Fanya
Sambil aku
buka loker “mana sih, aku gak dapet undangan” kataku
“aku kok
dapat? Kok kamu enggak?”
“cek coba
dari siapa!” suruhku kepada Fanya
“dari Army.
Kenal Army gak?” Tanya Fanya
“enggak deh,
bukannya anak Teknik ya itu” Jawabku
“bentar deh,
ini bukan buat aku. Ini untuk Fanya Gita, namaku kan Fanya Yunita” kata Fanya
sambil lemes
“kenak salah
sasaran aja hari hari ini” kataku sambil menahan tawa
Memang,
hari hari ini selalu aku dan Fanya kena musibah salah sasaran. Mulai dianggep
onar sampai dapat undangan nyasar. Aku harap besok gak dapat salah sasar lagi.
Saat
aku dan Fanya tiba di kos. Kami ingat bahwa besok hari Sabtu. Aku sudah janji
sama Ayah dan Ibu kalau minggu ini aku akan pulang. Begitu juga Fanya. Kami
pergi ke Stasiun untuk membeli tiket pulang. Sesampainya di Rumah. Kata bu Nani
tadi ada laki-laki nyari aku. Aku sama Fanya dibuat terkejut lagi. Masalahnya,
akhir semester ini aku dan Fanya lagi gak deket sama siapa siapa.
“laki-laki
tadi nitip nomor telefonnya ke ibuk, ini nomernya” kata Bu Nani
“makasih bu”
jawabku
“kira-kira
siapa itu Mik?” Tanya Fanya
“gak tau juga,
sekarang kan aku lagi gak deket sama siapa-siapa” jawabku
Saat
itupun aku langsung menghubunginya. Namanya Yohan anak MIPA. Katanya dia kenal
aku lewat Ospek. Tapi dia sekarang itu udah semester 6. Bingung kan. Aku sekarang masih semester 2.
“kamu Mikha
anaknya Pak Burhankan?” Tanya Yohan
“bukan, aku
masih semester 2 kali” langsung aku jawab seperti itu
“aku kira
kamu Mikha Anastasya” ujarnya
“bukan,
namaku Mikha Talita” jawabku
“oh, maaf”
katanya
“tidak
apa-apa. Maaf kalau aku mengganggu. Selamat Sore” kataku
“oh, iya.
Harusnya aku yang minta maaf” katanya
Dan
langsung kututup percakapanku. Aku memang tidak suka dengan pembicaraan yang
salah sambung. Dan tanpa alas an apapun, langsung kuhapus nomernya. Lalu, aku
cerita hal ini pada Fanya. Di tertawa terbahak-bahak. Da akupun ikut terawa
bersamanya.
Hari
ini memang hari yang meneyebalkan bagiku karna kali ini, aku yang dapat kesalah
sambungan orang. Minggu ini memang minggu yang penuh misteri dan menyebalkan.
Aku dan Fanya sering terkena salah sasaran. Tapi, melalui peritiwa ini aku dan
Fanya semakin dekat dan persahabatan
kami semakin erat. Aku senang dapat berkenalan dengan Fanya dan sebaliknya.
Memang sahabat itu selalu ada saat sahabat membutuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar